ICOR Indonesia Tertinggi di ASEAN (1)

Rabu , 16 Oktober 2019 | 12:52
ICOR Indonesia Tertinggi di ASEAN (1)
Sumber Foto beritagar
Aksi menolak revisi UU KPK beberapa waktu lalu.
POPULER

Fachru Nofrian, Ph.D

PRO dan kontra pelemahan KPK sempat mengambil tempat di ranah publik kini mulai sirna. Isu penegakan hukum dan korupsi yang diperjuangkan mahasiswa dan masyarakat sipil menghilang dan terhapus oleh isu lobi-lobi partai politik. Keadaan ini menandakan lemahnya masyarakat sipil untuk berjuang dalam demokrasi, yang semakin oligarkis seperti sekarang ini. Itu juga pertanda penegakan hukum ke depan semakin tidak pasti.

Padahal, lembaga KPK sangat menentukan baik buruknya negara ini kedepan. Eksistensi KPK juga menentukan citra dan sejarah rezim pemerintahan ini ke depan. Kasus revisi UU KPK yang sukses tiba-tiba karena gerilya DPR dan seluruh partai kemudian mengundang keberatan dan protes hampir seluruh elemen masyarakat mulai dari tokoh senior hingga pelajar, mulai dari partai politikk hingga intelektual dan artis hingga ahli hukum. Mereka membela KPK untuk menjadi lembaga yang kuat demi demokrasi dan reformasi.

Narasi yang berkembang di seluruh sudut nuansa publik adalah penguatan kelembagaan KPK. Tetapi praktek ekonomi politik hukum yang terjadi adalah kontradiksi yakni pelemahan KPK. Tentu pemerintahan yang ada sekarang tidak mau dianggap melemahkan KPK di dalam sejarah namun kenyataannya berbeda di mana DPR bersama pemerintah dalam hal ini Presiden terus tidak bergeming melakukan revisi, yang substansinya adalah pelemahan KPK.

Bagaimana ekonomi politik yakni hubungan ekonomi dengan politik hukum terkait kelembagaan KPK, yang melemah sekarang ini? Sesungguhnya memang benar bahwa ekonomi makro secara harfiah adalah masalah dinamika variabel konsumsi, investasi dan pertumbuhan. Namun secara holistik ekonomi tidak hanya itu sebab ada institusi lain non-ekonomi yang berpengaruh dan bertali-temali dengan faktor-faktor ekonomi. Pasar dan lembaga negara merupakan satu kesatuan institusi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kemajuan ekonomi secara keseluruhan.

Isu KPK yang mencuri perhatian adalah institusi negara yang berperan langsung menjaga anggaran negara dari korupsi aparat-aparat yang terlibat di dalamnya. Sekarang telah terjadi proses tarik-menarik ekonomi politik di dalam institusi negara yang melemahkan dan berhadapan dengan masyarakat sipil yang hendak menjaganya. Kuat atau lemahnya KPK seharusnya mencerminkan fungsi negara yang bekerja sebagaimana mestinya dan pada gilirannya akan mempengaruhi pertumbuhan dan distribusi pendapatan.

Dengan kondisi KPK yang dilemahkan seperti sekarang ini maka fungsi negara menjadi kabur di mana pemberatasan korupsi oleh negara akan melemah. Kelemahan institusi seperti ini akan mengganggu perekonomian khususnya implementasi anggaran negara. Ekonomi publik secara keseluruhan akan terganggu menjadi semakin tidak efisien. ICOR Indonesia sudah paling tinggi di antara negara-negara ASEAN. Dengan KPK yang lemah dan pemerintahan yang tidak bersih, maka kondisi ekonomi makro akan semakin tidak efisien.

Ada empat pandangan tentang negara sebagai institusi makro pembangunan. Pertama, negara yang turun langsung melakukan peran pelaku ekonomi dalam rangka pembangunan dan memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Di sini, negara berperan sebagai antitesa pasar yang bertugas menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakatnya. Kedua, negara yang berperan secara tidak langsung dalam aktivitas ekonomi dan memastikan sirkulasi ekonomi berjalan lancar. Ketiga, negara yang diserap pasar dan memastikan pasar yang efektif dan efisien. Keempat, pasar adalah konstruksi negara yang dibuat dengan mekanisme tertentu.

Dalam konteks ini, siapapun lembaga yang mengurusi pemberantasan korupsi, ia akan efektif jika negara tersebut efektif. Jika negara tidak efektif dan efisien, mungkin akan beralih ke bentuk lain yang lebih sesuai. Sebut saja pengalaman negara-negara besar mulai dari Amerika Serikat, negara zona euro, Jepang hingga ke Uni Sovyet. Di negara-negara itu, institusi negara berfungsi sebagaimana mestinya.(bersambung)

 

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load