Antisipasi Resesi, Sri Mulyani Minta Pengelolaan APBD Berpihak ke Rakyat

Kamis , 14 November 2019 | 17:55
Antisipasi Resesi, Sri Mulyani Minta Pengelolaan APBD Berpihak ke Rakyat
Sumber Foto: SH/Satryo Yudhantoko
Sri Mulyani Indrawati

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mewanti-wanti ancaman perang dagang atau resesi yang terjadi di tingkat global bakal ikut terdampak ke perekonomian domestik. Sebab, beberapa negara tetangga Indonesia telah mengalami pertumbuhan ekonomi negatif.

"Banyak negara yang ekonominya berada di zona pertumbuan ekonominya nol atau negatif," ujarnya dalam acara Sosialisasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa, di Kantor Direktorat Jendral Pajak, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (14/11/2019).

Karena hal itu, Sri meminta agar pemerintah derah (Pemda) dapat melakukan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang lebih berpihak kepada kesejahteraan masyarakat.

"Salah satu instumen yang sangat penting di dalam tujuan Indonesia maju adalah APBN dan APBD. Karena dia sumber daya yang dimiliki dan digunakan, maka yang lebih penting adalah digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat," katanya.

"Mengapa ini menjadi penting? Karena kita semua tahu bahwa kondisi perekonomian tidak lah statis, dia selalu dinamis. Dan pada akhir-akhir ini dinamika ekonomi global dalam arah yang melemah. Adanya pelemahan perekonomian global kemudian berimbas masuk ke perekonomian nasional," sambungnya.

Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia masih diangka 5 persen, Sri menekankan kepada seluruh jajaran pemerintahan, baik pusat dan daerah, untuk mengantisipasi ancaman resesi. Karena bukan tidak mungkin, sektor perdagangan, investasi dan ekspor impor akan lesu di dalam negeri.

Sehingga perekonomian Indonesia mesti didorong dengan berbagai instrumen yang dimilikinya. Untuk itu, dia meminta secara khusus kepada Pemda agar pengelolaan APBD bisa diarahkan kepada 3 hal. Yaitu, menjaga konsumsi rumah tangga, mendorong pengembangan investasi, dan efisiensi belanja pemda.

"Tiga belanja ini, belanja rumah tangga, belanja perusahaan dan belanja pemerintah, dan ditambah juga belanja dari luar negeri dalam bentuk ekspor kita. Maka 4 mesin pertumbuhan ekonomi ini harus didorong maksimal, pada saat ekonomi global mengalami pelemahan," dia mengungkapkan. (Ryo)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load