Pak Jokowi, Tegakkan Hukum Terhadap Pembakar Hutan

Minggu , 22 September 2019 | 22:32
Pak Jokowi, Tegakkan Hukum Terhadap Pembakar Hutan
Sumber Foto rri.go.id
Spanduk raksasa di Palangkaraya

JAKARTA--Sejumlah aktivis lingkungan Greenpeace Indonesia dan Save Our Borneo melakukan aksi pembentangan spanduk raksasa di bawah Jembatan Kahayan, Palangka Raya, Kalteng, Minggu (22/9/2019). 

Dalam aksinya mereka mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) bersama Pemerintah Pusat, khususnya Presiden RI Joko Widodo mengambil langkah hukum tegas. Mereka menilai, apa yang terjadi di Kalteng bukan lagi kebakaran biasa, akan tetapi perbuatan kriminal yang dapat dipidanakan, yakni pembakaran hutan lindung. 

Semua pihak yang terlibat harus ditindak tegas menurut hukum dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Bahkan jika lari ke luar negeri sekalipun, para kreator atau pembakar lahan harus bisa dikejar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Spanduk raksasa yang dibentangkan Greenpeace Indonesia dan Save Our Borneo bertuliskan pesan singkat yang mewakili puncak kegeraman rakyat Kalimantan Timur kepada para pembakar lahan di sana.

"Pak Jokowi, Tegakkan Hukum Untuk Cegah Karhutla," demikian pesan yang digantung para aktivis itu di atas Sungai Kahayan, Palangka Raya, Minggu (22/9/2019).

Tak hanya mengancam nyawa manusia, akan tetapi pembakaran hutan di Palangka Raya juga dinilai sudah mengancam ekosistem alam yang dibangun sejak puluhan tahun sebelumnya. Bahkan mata pencaharian warga ikut menjadi korban.

Seperti diberitakan RRI sebelumnya, akibat pembakaran lahan di Palangka Raya, ternyata api mulai merambat dan perlahan ikut melumat lahan milik warga Palangka Raya, Kalteng, Minggu (22/9/2019) dini hari. 

Menyadari keadaan sangat darurat, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hingga 30 September 2019. 

Kebakaran hutan dan lahan yang dipicu oleh oknum-oknum pembakar lahan sudah meluluhtantakkan ratusan ribu hektar lahan di seluruh Kalteng. Bahkan sektor pariwisata juga harus menerima penurunan omzet, yang berimbas pada hilangnya pendapatan warga sekitar lokasi wisata untuk bisnis UMKM yang mereka jalankan.

Beberapa hari lalu, Ketua Asosiasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Indonesia, Ikhsan Ingratubun mengatakan, sektor usaha kuliner di wilayah terdampak kabut asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mengalami penurunan omzet sekitar 20 persen karena berkurangnya aktivitas warga di luar rumah.

Salah satu yang mengalami penurunan drastis adalah daerah Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Hal itu dikemukakan Ikhsan setelah memantau penurunan pengunjung di kawasan wisata kuliner Pesona Wisata Alam Air Hitam Sungai Sebangau, Dermaga Kereng Bangkirai, Palangka Raya, Kalteng, Sabtu (21/9/2019).

Belakangan ini Obyek Wisata Dermaga Kereng Bangkirai menjadi salah satu tujuan wisata yang banyak diminati wisatawan lokal, karena pemandangan dan panorama alam sekitarnya. Akses menuju obyek wisata ini berjarak kurang lebih 10 km dari Pusat Kota Palangaka Raya, dan mudah karena banyak tersedia transportasi umum untuk menuju kawasan tersebut. 

Dermaga Kereng Bangkirai merupakan pintu gerbang utama menuju kawasan Taman Nasional Sebangau yang merupakan destinasi wisata alam, wisata minat khusus, serta tempat atau lokasi penelitian gambut yang dikelola Center for International Co-operation in Sustainable Management of Tropical Peatland (Cimtrop) Universitas Palangka Raya (Unpar).

 


Sumber Berita:rri.go.id
KOMENTAR

End of content

No more pages to load