Serapan Tenaga Kerja Turun, Bahlil Janji Tarik Investor Sektor Manufaktur

Kamis , 31 Oktober 2019 | 16:23
Serapan Tenaga Kerja Turun, Bahlil Janji Tarik Investor Sektor Manufaktur
Sumber Foto: SH/Satryo Yudhantoko
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia

JAKARTA - Di balik tumbuhnya nilai investasi Indonesia sebesar 2,6 persen pada Kuartal III/2019, serapan tenaga kerja justru malah turun sebanyak 42.733 pekerja dari serapan April-Juni 2019 (Kuartal II/2019) sebanyak 255.314 pekerja menjadi 212.581 pada Juli-September 2019 (Kuartal III/2019).

Secara kumulatif Januari-September 2019, jumlah tenaga kerja yang berhasil diserap adalah sebanyak 703.296 pekerja dari nilai investasi sebesar Rp 601,3 triliun.

Sementara pada periode yang sama pada tahun 2018, jumlah tenaga kerja yang terserap 704.813 pekerja dari nilai investasi sejumlah Rp 535,4 triliun. Artinya, terjadi penurunan sebesar 1.517 tenaga kerja.

Menanggapi hal itu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebut fenomena tersebut sebagai suatu hal yang biasa. Karena saat ini, katanya, banyak industri yang mulai menggunakan mesin ketimbang tenaga kerja manusia.

"Soal serapan tenaga kerja ya itu cuma seribu aja itu. Ada padat karya ada mesin, ya itu yang penting ketika industrinya jalan kan bakal terserap. Ini kan baru masa konstruksi," ujarnya dalam jumpa pers di Kantor BKPM, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (31/10/2019).

"Contoh gini, orang bangun jalan atau gedung, dulu kan manual (pakai tenaga kerja manusia) jadi serapannya banyak. Tapi masa manual terus? Begitu dia bergeser ke mesin itu akan memangkas tenaga kerja. Jadi nggak masalah itu nanti juga bakal terserap," sambungnya.

Selain itu, kapasitas industri sektor manufaktur yang lebih rendah ketimbang sektor tersier membuat serapan tenaga kerja ikut menurun. Oleh karena itu kedepannya, Bahlil mengaku akan mendorong dan menarik investor menanam modalnya disektor manufaktur.

"Saya pikir memang ke depan adalah tugas kita untuk mendorong mereka ke manufaktur. Kasih kami waktu satu bulan, kita konsolidasi ke dalam dan kita lihat peta potensinya di mana dan akan kita ajak mereka untuk masuk. sekarang. Kan persaingannya beda ya," dia menambahkan.

Sebagi informasi, sepanjang tahun ini, realisasi investasi pada sektor industri manufaktur mulai dari Januari hingga September 2019 baru mencapai Rp 147,3 triliun.

Capaian ini lebih rendah dibandingkan dengan realisasi investasi sektor industri manufaktur pada periode yang sama tahun sebelumnya, di mana BKPM mencatat terdapat realisasi investasi ke sektor tersebut mencapai Rp169,7 triliun.

Dari tahun ke tahun, tampak bahwa sektor industri manufaktur sendiri sudah mulai ditinggalkan oleh investor.

Tahun ini saja, realisasi investasi pada sektor jasa atau tersier mulai Januari hingga September 2019 tercatat mencapai Rp 354,6 triliun. Secara nominal capaian ini sudah hampir mendekati nominal realisasi investasi 2018 pada sektor jasa yang mencapai Rp 367 triliun.

Karena hal itulah akhirnya penyerapan tenaga kerja juga ikut menurun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. (Ryo)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load